metode-latihan-fisik-atlet-paralympic-games-untuk-daya-tahan

Metode Latihan Fisik Atlet Paralympic Games untuk Daya Tahan

Metode Latihan Fisik Atlet Paralympic Games untuk Daya Tahan. Atlet Paralympic menghadapi tantangan unik dalam membangun daya tahan fisik, karena impairment sering memengaruhi kapasitas aerobik dan anaerobik. Latihan daya tahan menjadi kunci utama untuk meningkatkan performa di cabang seperti renang, atletik, atau rowing kursi roda. Metode latihan difokuskan pada pendekatan individual, menggabungkan elemen aerobik jangka panjang dengan anaerobik intensif, sambil memperhitungkan jenis cedera seperti spinal cord injury atau amputasi. Program ini tidak hanya meningkatkan VO2 max, tapi juga membantu mengatasi kelelahan dini dan biaya metabolik lebih tinggi yang umum dialami atlet disabilitas. INFO CASINO

Latihan Aerobik untuk Kapasitas Dasar: Metode Latihan Fisik Atlet Paralympic Games untuk Daya Tahan

Latihan aerobik membentuk fondasi daya tahan dengan meningkatkan efisiensi kardiorespiratori. Atlet sering melakukan sesi panjang dengan intensitas rendah hingga sedang, seperti rowing atau ergometer lengan selama 60-90 menit. Untuk perenang Paralympic, program mencakup volume tinggi pada pace lambat untuk membangun endurance dasar, diikuti recovery aktif. Pada atlet kursi roda, latihan ini melibatkan propulsion jarak jauh di trek atau simulator, dengan fokus pada ritme stabil untuk mengoptimalkan penggunaan otot atas tubuh. Pendekatan ini membantu meningkatkan peak oxygen uptake dan mengurangi risiko overtraining, terutama karena atlet disabilitas rentan terhadap kelelahan lebih cepat.

Latihan Anaerobik dan Interval Tinggi: Metode Latihan Fisik Atlet Paralympic Games untuk Daya Tahan

Untuk menangani kebutuhan anaerobik, latihan interval tinggi intensitas diterapkan secara bertahap. Metode ini termasuk sprint pendek atau repetisi cepat dengan recovery panjang, seperti di wheelchair basketball atau track sprint. Kombinasi aerobik-anaerobik terbukti efektif, misalnya dengan high-intensity interval training (HIIT) yang disesuaikan impairment. Atlet amputasi sering menambahkan eccentric overload untuk kekuatan eksplosif, sementara yang dengan spinal injury menggunakan hybrid training seperti functional electrical stimulation untuk mendukung gerakan. Tujuannya meningkatkan toleransi asam laktat dan power output, sambil mencegah cedera overuse yang lebih berisiko pada atlet Paralympic.

Pendekatan Individual dan Periodisasi

Setiap program latihan daya tahan harus dipersonalisasi, mengingat variasi impairment seperti tetraplegia atau cerebral palsy. Periodisasi melibatkan fase build-up dengan volume tinggi, diikuti tapering lebih panjang untuk recovery optimal. Pelatih sering mengintegrasikan strength training untuk core stability dan postural endurance, terutama pada amputee atau wheelchair user. Monitoring ketat melalui heart rate, lactate threshold, dan perceived exertion membantu penyesuaian, menghindari overtraining yang bisa menurunkan performa. Pendekatan n=1 ini memastikan latihan tidak hanya membangun daya tahan, tapi juga meningkatkan kualitas hidup sehari-hari.

Kesimpulan

Metode latihan fisik daya tahan atlet Paralympic menekankan keseimbangan aerobik dasar, anaerobik intensif, dan adaptasi individual untuk mengatasi tantangan impairment. Dengan program yang tepat, atlet bisa mencapai peningkatan signifikan dalam endurance, mengurangi risiko cedera, dan bersaing di level tertinggi. Proses ini tidak hanya tentang medali, tapi juga ketangguhan mental dan fisik jangka panjang. Harapannya, semakin banyak atlet disabilitas terinspirasi untuk berlatih secara konsisten, membuktikan bahwa batas hanya ada di pikiran.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *